3.12.2009

First Kiss

Banyak manusia mengatakan saya pintar, pada kenyataannya mereka salah. Dunia penuh akan teka-teki, tapi tak dapat dijabarkan. Saya bertanya dan mencari tahu, jawaban beraneka dan ada yang bertolak belakang. Tidak ada yang sempurna, tahu tapi tidak mengerti.

Nekad dan muka badak, bertanya kepada sejumlah manusia dari remaja hingga dewasa, mencari tahu apa itu first kiss. Jawaban mereka, memaksa manusia untuk mencari tahu jawabannya sendiri.

Banyak orang tak peduli akan apa itu first kiss karena bagi mereka itu hanyalah sebuah ungkapan cinta yang dilandaskan oleh nafsu dan bahkan ada yang menjadikan kiss adalah filter untuk menentukan apakah seseorang mempunyai perasaan atau tidak terhadap pasangannya. Di sisi lain, dianggap suatu yang sakral, jadi haruslah diberikan kepada seseorang yang terkasih (mis: suami).

Ada yang berimajinasi bahwa first kiss adalah suatu hal yang paling berkesan seumur hidup, sehingga membuat jantung berdetak lebih cepat hingga takut terdengar oleh pasangannya. Kejadian yang diimajinasikan adalah mata tertutup karena takut padahal ingin sekali melihat (penasaran) untuk menyaksikan moment penting dalam hidup.

Pada kenyataan banyak yang mengatakan bahwa first kiss itu memang sesuatu yang indah, mendebarkan, berjuta rasa, hingga membuat diri tidak karuan dalam beberapa hari dan sesak nafas untuk mengingat hal tersebut. Di sisi lain, ada yang berpendapat first kiss tidaklah istimewa bahkan menjijikan.

Hal diatas adalah pendapat yang saya lebur dari puluhan jawaban. Jadi kesimpulan sementara saya yang tidak mengetahui apa itu First Kiss adalah: Seseorang yang makan cabai untuk pertama kalinya, dengan tujuan mengetahui bagaimana rasa pedas tersebut, yang mana pada awalnya mungkin mereka peduli atau tidak peduli akan namanya pedas. Setelah mencoba, reaksi yang ditimbulkan tidak selalu sama tergantung manusia itu sendiri.

Sedangkan berikut adalah jawaban dari pujangga Khalil Gibran tentang first kiss yang diterjemahkan secara bebas oleh saya:

"Ini adalah sentuhan pertama dari cangkir yang diisi oleh dewa dengan minuman kehidupan yang nikmat.Ini adalah batas antara kebimbangan akan jiwa yang diperdaya dan sedihnya hati, dan kepastian karena bagian dalam manusia dibanjiri dengan kegembiraan.Ini adalah awal dari nyanyian kehidupan dan permulaan dari drama manusia ideal. Ini adalah tali yang menyatukan ketidaktahuan di masa lalu dan kebijaksanaan di masa depan. Hubungan antara perasaan yang sunyi dengan nyanyiannya. Ini adalah bahasa yang diucapkan oleh dua pasang takak bibir yang menyatakan hati sebagai singgasana, cinta sebagai raja, dan kesetiaan sebagai mahkota. Ini adalah sentuhan kasih sayang dari lembut dan halusnya jari pada bibir bunga mawar yang mengeluarkan desahan kebebasan dan suara bisikan yang manis. Ini adalah awal dari getaran magis yang membawa para pecinta dari dunia yang penuh derita dan aturan masuk ke dunia penuh mimpi dan kejutan. Ini adalah kesatuan dari dua bunga yang harum dan campuran keharumannya menciptakan jiwa ketiga. Seperti pandangan pertama bagaikan benih yang ditaburkan dewa di ladang hati manusia. Jadi First Kiss adalah bunga pertama pada ujung batang pohon kehidupan."

Masih belum puas akan jawaban, saya mencoba bertanya dengan mr Google. Jawabannya singkat, padat dan jelas. KISS adalah kependekan dari Keep It Simple, Stupid. Jadi saya artikan First Kiss adalah segala suatu yang pertama kali dilakukan dan janganlah dibuat susah. Manusia itu bodoh dan karena mencoba maka manusia menjadi pintar.
Baca Lengkapnya »»

BRITAIN’S MAN IN RIGA

Leslie Nicholson alias John Whitwell adalah seorang petugas intelijen Secret Intelligence Service (SIS) Inggris. Dalam menjalankan tugasnya, yang hampir kesemuanya dilakukan seorang diri, untuk mengumpulkan informasi-informasi yang bernilai intelijen dan mengembangkan jaringan untuk mempermudah proses pengumpulan informasi.

Hal ini mutlak dilakukan karena petugas SIS biasanya tidak mengumpulkan sendiri informasi di wilayah ia bertugas, melainkan dengan memanfaatkan jaringan yang ia miliki untuk memperoleh akses informasi seluas dan sebanyak mungkin.
Nicholson bergabung dengan MI-6/SIS pada tahun 1929. Dengan kemampuannya berbahasa Perancis dan Jerman, Nicholson yang belum menikah pada waktu itu, ditugaskan untuk mengepalai pos SIS di wilayah Praha pada tahun 1930-1934. Nicholson termasuk orang yang beruntung. Meskipun gaji yang ia terima dari SIS tergolong kecil, namun ia masih mendapatkan tunjangan pensiun tentaranya. Di Praha, Nicholson ikut serta dalam pembuatan bom atom di basement kastil Chechnya.
Pada tahun 1934, Nicholson dipindahtugaskan untuk memimpin pos SIS di Riga, yang pada saat itu Riga berada dibawah pendudukan Soviet. Nicholson mendapatkan tugas untuk mengumpulkan segala macam informasi tentang Soviet dan NAZI Jerman. Di kemudian hari, Nicholson juga terlibat operasi intelijen Inggris di wilayah Timur Tengah dan Operasi Balkan.
Riga adalah ibukota Latvia. Selama ia berada disana, ia bertemu dengan beberapa tokoh penting, hal ini dimungkinkan dengan covernya sebagai seorang diplomat Inggris. Beberapa tokoh yang ia temui diantaranya adalah “Paman Sebastian”, seorang perwira kavaleri Rusia yang mengendalikan mata-mata di wilayah Soviet, Arthur Schmidkoff, Kepala Keamanan Internal Latvia yang dikenal sebagai seorang yang paling ditakuti di wilayah Latvia, dan seorang gadis Rusia cantik berkulit putih yang bernama Nina, yang diketahui bekerja untuk Soviet dan kemungkinan besar juga bekerja untuk Jepang.
Sebagai seorang petugas SIS, ia telah menjalankan tugasnya dengan baik. Dengan memiliki kenalan orang-orang penting di Latvia, ia akan mampu mengumpulkan informasi intelijen karena memiliki akses ke sumber-sumber informasi penting.
Pada bulan Oktober 1938, Nicholson bergabung bersama seorang veteran SIS sekaligus diplomat Inggris Kenneth Benton dan istrinya Peggie Benton, yang kelak di kemudian hari menuliskan perjalanan mereka ke dalam sebuah buku memoir yang berjudul Baltic Countdown.
Buku Baltic Countdown tersebut menceritakan tentang kependudukan Soviet di Baltic dan pengalaman mereka termasuk pada saat membantu para pengungsi dari Eropa Timur, yang ternyata diketahui kebanyakan adalah orang Yahudi, untuk mengurus visa di Riga. Para Yahudi tersebut takut kepada Soviet yang anti Semit, seperti NAZI Jerman yang juga sangat membenci Yahudi, karena menganggap ras Arya lah yang paling tinggi.
Pada bulan Juni 1940, ketika Tentara Merah-nya Soviet (Rusia) menduduki Latvia, Nicholson dan Benton sekeluarga pergi melintasi Soviet menuju Vladivostok, dan kemudian menyeberangi Samudera Pasifik hingga sampailah mereka di Amerika Serikat. Perjalanan Nicholson pun berakhir, dan ia dikenang sebagai salahsatu Agen Intelijen Inggris yang tidak bisa lepas dari profesinya sebagai seorang petugas intelijen dalam kesehariannya.
Baca Lengkapnya »»

3.11.2009

Cara Amerika Memaksa Musuhnya Untuk Bicara

Berikut ini metode-metode interograsi yang resmi diajarkan kepada personil US Military oleh SERE ( US Military Training Program – Survival, Evasion, Resistance, Escape )

1. Isolation.
Caranya tersangka ditempatkan di ruang tersendiri tanpa bisa melakukan kontak apapun dg orang lain. Dalam periode tertentu tersangka akan mengalami kegelisahan berat karena keinginan yg sangat kuat untuk berinteraksi dengan orang lain.

2. Sleep Deprivation.
Dengan mencegah tersangka untuk tidur selama beberapa hari. Setelah beberapa hari tersangka akhirnya diperbolehkan tidur tapi segera dibangunkan lagi dan langsung di interograsi.
Mantan Perdana Menteri Israel Menachem Begin pernah mengalami ini pada saat dia ditahan KGB. Dia bilang,” Orang-2 terlihat seperti diselimuti kabutdan rasanya aku sudah mati. Kakiku gemetaran hebat dan SATU…hanya SATU keinginanku : TIDUR. kelaparan dan kehausan gk ada apa-apanya dibandingkan ini.
Selain menimbulkan halusinasi, sleep deprivation yg lebih dari 24 jam akan menimbulkan kegilaan sementara.

3. Sensory Deprivation.
Metodenya dengan menempatkan tersangka di semacam tabung yg mengisolasi total semua rangsangan dari luar. Tabung tersebut diberi sebuah lubang kecil untuk tempat bernafas penghuninya. Pada percobaan yg dilakukan terhadap 17 org subyek, hanya 6 orang yg bertahan sampai 36 jam. Yang lainnya mengalami kegelisahan berat dan kepanikan.

4. Stress Position.
Tersangka dipaksa berdiri selama berjam-jam tanpa diberi pegangan apapun. Variasi lainnya selain berdiri tahanan juga disuruh mengangkat lengannya. Metode ini pd penerapannya di lapangan berkembang menjadi semakin inovatif seperti mengikat tangan kebelakang lalu diikatkan lagi ke pergelangan kaki pada posisi “ditarik”.

5. Sensory Bombardment.
Caranya dengan menyuruh tahanan berdiri menghadap tembok. Mata ditutup dan tangan diikat erat lalu tahanan akan dibombardir dengan sinar lampu sangat terang dan suara-suara keras sehingga mengakibatkan kekacauan indra tubuh akibat rangsangan yg berlebih, gangguan tidur dan konsentrasi. Salah seorang sumber di tahanan menyebutkan ada seorang tahanan yg “keras kepala” mengalami penyiksaan ini selama 7 hari non stop.

6. Forced Nudity.
Metode ini banyak diterapkan tentara Amerika di Iraq saat menginterograsi tawanan perang. Prakteknya dengan menelanjango tersangak di depan tahanan yg lain dan membiarkannya tetap bugil dalam jangka waktu yg lama. Akibatnya tersangka akan merasa malu luar biasa.

7. Sexual Humiliation.
Hal ini disesuaikan dengan budaya dan kepercayaan yg dianut oleh si tersangka. Cara-caranya seperti tersangka dipaksa melakukan adegan sex dengan sesama jenis, disuruh memakai pakaian wanita (utk tersangka pria) lalu dipaksa menari striptease di depan personil wanita.

8. Cultural Humiliation.
Seperti poin diatas cara ini jg disesuaikan dengan budaya setempat. Metode ini pada intinya memaksa tersangka melakukan sesuatu yg menurut pandangan tersangka merupakan sesuatu yg dilarang atau memalukan. Contohnya bagi muslim dipaksa makan babi. Selain itu bisa juga dengan penghinaan-2 verbal sampai tersangka merasa sangat terhina dan mematahkan semangatnya.

9. Extreme Cold.
Cara ini dulunya berasal dari China yg diterapkan kepada tahanan politik atau para aktivis keagamaan. Umumnya tahanan secara rutin tubuhnya diguyur air dingin dan dibiarkan berada di dalam atau di luar ruangan yg jg bersuhu rendah. Ada juga yg dipaksa berdiri ditengah hujan salju cuma mengenakan pakaian seadanya.
Metode yg berlawanan adalah menggunakan panas yaitu dgn mengurung tahanan di semacam ruang sempit yg minim ventilasi dan bersuhu tinggi. Disebut juga “hot box”. Tersangka baru akan dikeluarkan setelah mau bekerjasama dengan interogatornya.

10. Phobias.
Phobias digunakan untuk menimbulkan perasaan panik pada diri tersangka. Contohnya kalo si tersangka takut dengan laba-laba maka selnya akan diisi penuh dengan laba-laba sampai tersangka tersebut mengalami rasa takut dan panik yg luar biasa. Pada tahap tersebut barulah interogasi dilaksanakan.

11. Water Boarding.
Metode ini belakangan dilarang digunakan dalam US Military. Tp tidak ada yg menjamin apakah aturan tersebut benar-benar dilaksanakan atau tidak. Waterboarding dilakukan dengan mengikat tubuh erat-erat tersangka pada sebuah papan atau meja dengan posisi kaki lebih tinggi drpd kepala, lalu matanya ditutup. Kemudian wajah tersangka disiram dengan air berulang-kali dg teknik tertentu. Secara psikolog tersangka akan merasa dirinya tenggelam dan timbul reaksi tersedak karena air yg diguyurkan ke wajahnya itu. Metode ini sangat efektif karena dalam percobaan yg dilakukan thd anggota CIA sendiri ternyata rata-rata mereka hanya bertahan selama 14 detik !

Baca Lengkapnya »»

40 Fakta Unik Yang Tidak Anda Sadari !

1. Cocacola dulu berwarna hijau.

2. Nama yang paling umum digunakan di dunia adalah Mohammed.

3. Dalam bahasa inggris, semua nama benua diawali dan diakhiri dengan huruf vokal yang sama.

4. Otot terkuat yang ada di badan kita adalah lidah.

5. Setiap orang di USA punya 2 kartu kredit.

6. TYPEWRITER adalah kata terpanjang yang dapat diketik dalam satu baris tuts keyboard anda.

7. Perempuan ngedip dua kali lebih banyak dari pada laki-laki.

8. Menahan nafas tidak akan membuatmu mati.

9. Setiap manusia tidak dapat menjilat siku tangannya sendiri.

10. Kalau ada orang mengucapkan doa setiap kali ada yang bersin karena memang setiap kali kau bersin, jantungmu berhenti satu mili-deteik.

11. Secara fisik, setiap babi tidak bisa melihat ke langit.

12. Ucapkan "sixth sick sheik's sixth sheep's sick" beberapa kali. Nanti anda akan mahir berbahasa inggris !

13. Bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian.

14. Setiap raja dalam kartu remi melambangkan raja-raja besar jaman dahulu kala:

Raja sekop - Raja Daud

Raja kriting - Alexander Agung

Raja hati - Raja Charlemagne

Raja wajik - Julius Caesar

15. 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321

16. Kalau ada patung orang naik kuda dan dua kaki depan kuda itu naik di udara, itu tandanya orang itu mati dalam perang.

17. Kalau kaki kudanya cuma satu yang diangkat berarti orang itu cuma terluka dalam perang.

18. Kalau semua kaki kudanya menjejak tanah, berarti orang itu meninggal karena sakit.

19. Apa persamaan rompi anti peluru, printer laser, tangga darurat dan wiper mobil? Jawabannya: semua ditemukan oleh perempuan.

20. Satu-satunya makanan yang tidak bisa busuk? Jawaban: madu.

21. Buaya nggak bisa melet lidah.

22. Siput bisa tidur selama 3 tahun.

23. Semua beruang kutub KIDAL!

24. American Airlines menghemat $40,000 tahun 1987 dengan cara mengurangi 1 buah olive dari setiap piring salad yang mereka sajikan untuk penumpang kelas 1.

25. Indera perasa kupu-kupu ada di kaki.

26. Gajah adalah satu-satunya hewan yang tidak bisa lompat.

27. Selama 4000 tahun belakangan ini, jenis hewan yang dipelihara di rumah cuma itu-itu saja.

28. Rata-rata manusia lebih takut pada laba-laba daripada kematian.

29. Shakespeare menemukan kata : "Assassination" dan "bump".

30. Dengan menggunakan cara mengetik 10 jari, STEWARDESSES adalah kata terpanjang yang bisa diketik hanya dengan jari-jari tangan kiri.

31. Semut selalu jatuh ke kanan setiap kali disemprot cairan anti hama.

32. Kursi listrik ditemukan oleh seorang dokter gigi.

33. Jantung manusia dapat menyemprotkan darah sejauh 30 kaki.

34. Dalam 18 bulan, 2 ekor tikus bisa punya lebih dari sejuta anak tikus!

35. Memakai headphone selama satu jam dapat menstimulasi perkembangan bakteri dalam telinga sebanyak 700 kali lipat!

36. Pemantik ditemukan sebelum korek api.

37. Setiap lipstik mengandung sisik ikan.

38. Seperti sidik jari, lidah manusia pun mempunyai kontur yang berbeda-beda.

39. 99% orang yang membaca tulisan ini mencoba mengalikan fakta no. 15.

40. Dan akhirnya, 99% orang yang baca tulisan ini pasti mencoba menjilat siku tangannya.
Baca Lengkapnya »»

12 Ciri Khas Lelaki

Anda mungkin tak habis pikir dengan kelakuan lelaki. Mereka kerap melakukan aktivitas yang tidak penting, dengan tingkat keseriusan yang luar biasa. Tidak bisa diinterupsi pula. Hal apa saja sih, yang menurut mereka penting?

Prinsipnya, yang sering menjadi masalah adalah ketika lelaki merasa harus kehilangan kebiasaannya sebelum punya pacar atau menikah. Menganggap bahwa kita tidak bisa menerima semua kebiasaan kecilnya itu, sehingga cenderung berbohong.

Mari kita buka apa saja sih, kebiasaan mereka. Dan hal kecil apa yang menurut mereka penting. Tidak semua orang sama, tetapi kira-kira inilah kebiasaan umum para lelaki.

1. MENGURUS MOBIL/MOTOR
Mereka perlu upacara khusus untuk mencuci atau memoles mobilnya. Dari mempersiapkan peralatan, sampai baju kerja. Menurut mereka, sungguh tidak masuk akal, acara penting itu harus diburu-buru hanya untuk makan siang bersama, misalnya.

2. MAIN PLAYSTATION
Anda boleh heran ada orang yang bisa setiap hari main Playstation (PS). Buat mereka, pulang kantor main PS adalah refreshing yang menyenangkan. Biarkan saja. Mereka tetap bisa ke kantor dengan segar, kok.

3. MAIN BILIAR
Sulit bagi lelaki penyuka biliar, membiarkan meja biliar "tak bertuan". Jika ada ajakan mendadak main biliar, maka dia akan cenderung mengikutinya. Dan buntutnya, dia akan mencari alasan yang masuk akal, ketika Anda meneleponnya.

4. MAIN REMOTE
Permainan ini memang terkesan seperti permainan anak kecil. Mereka bisa berhari-hari mengulik mobil remote control-nya, lalu tak sabar bertanding di hari Minggu. Percuma dilarang. Mendingan ikut bersorak.

5. MENDENGARKAN MUSIK
Tiada hari tanpa mendengarkan musik. Okelah, ini masih bisa ditolerir. Tapi mendengarkan musik dengan volume sekeras itu? Biarpun telinga mereka sesehat kuping Anda, toh buat mereka mendengar musik dengan volume keras jauh lebih mantap. Bisa membangkitkan semangat hari itu.

6. MENGOLEKSI CD/FILM
Dia selalu tahu ada koleksi CD baru di toko kaset. Biasanya, mereka akan mengendaap-endap dari Anda, membeli CD baru itu, lalu mendekapnya sepanjang hari seperti baru dapat pacar baru. Hobi tak bisa dilarang. Ajak saja dia mengatur bujet CD.

7. SET UP ALAT
Sound system atau komputer baru membangkitkan gairahnya untuk men-set up-nya. Jangan sesekali memintanya menggeser kaki sekali pun, untuk menyapu areal itu. Buat mereka, menyapu bisa besok, set up alat tidak. Mereka akan tersenyum puas ketika hasil set up-nya berhasil.

8. NGOBROL
Pulang kantor, tahu-tahu ada ajakan mengobrol barang sejenak dari dua-tiga orang kawan. Mereka bisa ngoceh ngalor-ngidul hingga tak kenal waktu. Biasanya, kalau ditelepon, mereka akan bilang sedang rapat. Buat mereka, ngobrol dengan teman itu penting.

9. NONGKRONG
Kawan lama menelepon dan mengajaknya nongkrong di sebuah kafe yang dulu biasa mereka datangi. Tawaran seperti itu biasanya sulit ditolak. Mereka akan bersenang-senang, mirip dengan gaya semasa belum pacaran atau menikah. "Party" dadakan ini biasanya enggan meereka sampaikan pada pasangan karena takut kena omel.

10. MENGOLEKSI PERKAKAS
Kalau sudah ke toko perkakas, misalnya, mereka seperti lupa daratan. Belanja ini-itu yang menurut kita tidak penting. Bahkan mereka bisa membeli perkakas yang kegunaannya baru terasa sekian abad mendatang. Buat mereka, membeli perkakas itu memacu adrenalin. Membuat mereka punya rencana seru untuk membuat sesuatu.

11. DITANYAKAN KABARNYA
Dia mungkin pernah bercerita tentang beberapa peristiwa penting di kantornya. Menurut mereka, adalah sangat menyenangkan ketika peristiwa penting itu ditanyakan perkembangannya beberapa hari kemudian. Perhatian atas hal-hal kecil yang menyangkut pekerjaan dan karier, akan terasa olehnya "seumur hidup".

12. DIBERI DUKUNGAN
Dia mungkin main PS sampai pagi karena mengejar poin, atau men-set up alat hingga berkringat, memoles mobil sampai terbungkuk-bungkuk. Bagi mereka, akan sangat menyenangkan jika di saat mereka sedang melakukan aktivitasnya bukan diomeli, tetapi justru disiapkan kopi dan camilan. Dukungan semacam itu membuat mereka akan semakin terbuka pada toleransi.

sumber : kompas.com
Baca Lengkapnya »»

PARAMILITARY OPS BY CIA IN AFGHANISTAN

Insider accounts published in the British, French and Indian media have revealed that US officials threatened war against Afghanistan during the summer of 2001. These reports include the prediction, made in July, that "if the military action went ahead, it would take place before the snows started falling in Afghanistan, by the middle of October at the latest." The Bush administration began its bombing strikes on the hapless, poverty-stricken country October 7, and ground attacks by US Special Forces began October 19.

The pundits for the American television networks and major daily newspapers celebrate the rapid military defeat of the Taliban regime as an unexpected stroke of good fortune. They distract public attention from the conclusion that any serious observer would be compelled to draw from the events of the past two weeks: that the speedy victory of the US-backed forces reveals careful planning and preparation by the American military, which must have begun well before the attacks on the World Trade Center and the Pentagon.
The official American myth is that "everything changed" on the day four airliners were hijacked and nearly 5,000 people murdered. The US military intervention in Afghanistan, by this account, was hastily improvised in less than a month. Deputy Defense Secretary Paul Wolfowitz, in a television interview November 18, actually claimed that only three weeks went into planning the military onslaught.
This is only one of countless lies emanating from the Pentagon and White House about the war against Afghanistan. The truth is that the US intervention was planned in detail and carefully prepared long before the terrorist attacks provided the pretext for setting it in motion. If history had skipped over September 11, and the events of that day had never happened, it is very likely that the United States would have gone to war in Afghanistan anyway, and on much the same schedule.

Afghanistan and the scramble for oil
The United States ruling elite has been contemplating war in Central Asia for at least a decade. As long ago as 1991, following the defeat of Iraq in the Persian Gulf War, Newsweek magazine published an article headlined "Operation Steppe Shield?" It reported that the US military was preparing an operation in Kazakhstan modeled on the Operation Desert Shield deployment in Saudi Arabia, Kuwait and Iraq.
If the 1991 dissolution of the Soviet Union provided the opportunity for the projection of American power into Central Asia, the discovery of vast oil and gas reserves provided the incentive. While the Caspian Sea coast of Azerbaijan (Baku) has been an oil production center for a century, it was only in the past decade that huge new reserves were discovered in the northwest Caspian (Kazakhstan) and in Turkmenistan, near the southwest Caspian.
American oil companies have acquired rights to as much as 75 percent of the output of these new fields, and US government officials have hailed the Caspian and Central Asia as a potential alternative to dependence on oil from the unstable Persian Gulf region. American troops have followed in the wake of these contracts. US Special Forces began joint operations with Kazakhstan in 1997 and with Uzbekistan a year later, training for intervention especially in the mountainous southern region that includes Kyrgyzstan, Tajikistan and northern Afghanistan.
The major problem in exploiting the energy riches of Central Asia is how to get the oil and gas from the landlocked region to the world market. US officials have opposed using either the Russian pipeline system or the easiest available land route, across Iran to the Persian Gulf. Instead, over the past decade, US oil companies and government officials have explored a series of alternative pipeline routes-west through Azerbaijan, Georgia and Turkey to the Mediterranean; east through Kazakhstan and China to the Pacific; and, most relevant to the current crisis, south from Turkmenistan across western Afghanistan and Pakistan to the Indian Ocean.
The Afghanistan pipeline route was pushed by the US-based Unocal oil company, which engaged in intensive negotiations with the Taliban regime. These talks, however, ended in disarray in 1998, as US relations with Afghanistan were inflamed by the bombing of US embassies in Kenya and Tanzania, for which Osama bin Laden was held responsible. In August 1998, the Clinton administration launched cruise missile attacks on alleged bin Laden training camps in eastern Afghanistan. The US government demanded that the Taliban hand over bin Laden and imposed economic sanctions. The pipeline talks languished.



Subverting the Taliban
Throughout 1999 the US pressure on Afghanistan increased. On February 3 of that year, Assistant Secretary of State Karl E. Inderfurth and State Department counterterrorism chief Michael Sheehan traveled to Islamabad, Pakistan, to meet the Taliban's deputy foreign minister, Abdul Jalil. They warned him that the US would hold the government of Afghanistan responsible for any further terrorist acts by bin Laden.
According to a report in the Washington Post (October 3, 2001), the Clinton administration and Nawaz Sharif, then president of Pakistan, agreed on a joint covert operation to kill Osama bin Laden in 1999. The US would supply satellite intelligence, air support and financing, while Pakistan supplied the Pushtun-speaking operatives who would penetrate southern Afghanistan and carry out the actual killing.
The Pakistani commando team was up and running and ready to strike by October 1999, the Post reported. One former official told the newspaper, "It was an enterprise. It was proceeding." Clinton aides were delighted at the prospect of a successful assassination, with one declaring, "It was like Christmas."
The attack was aborted on October 12, 1999, when Sharif was overthrown in a military coup by General Pervez Musharraf, who halted the proposed covert operation. The Clinton administration had to settle for a UN Security Council resolution that demanded the Taliban turn over bin Laden to "appropriate authorities," but did not require he be handed over to the United States.

A CIA secret war
According to a front-page article in the Washington Post November 18, the CIA has been mounting paramilitary operations in southern Afghanistan since 1997. The article carries the byline of Bob Woodward, the Post writer made famous by Watergate, who is a frequent conduit for leaks from top-level military and intelligence officials.
Woodward provides details about the CIA's role in the current military conflict, which includes the deployment of a secret paramilitary unit, the Special Activities Division. This force began combat on September 27, using both operatives on the ground and Predator surveillance drones equipped with missiles that could be launched by remote control.
The Special Activities Division, Woodward reports, "consists of teams of about half a dozen men who do not wear military uniforms. The division has about 150 fighters, pilots and specialists, and is made up mostly of hardened veterans who have retired from the US military.
The Special Activities Division (SAD) is a division of the Central Intelligence Agency's National Clandestine Service, responsible for covert action paramilitary operations, the collection of intelligence in hostile and/or denied areas and all high threat military and/or intelligence operations when the U.S. Government does not wish to be overtly associated with such activities. As such, members of the unit, when on missions, normally do not carry any objects or clothing (e.g., military uniforms) that would associate them with the United States. If compromised during a mission, the government of the United States may legally deny their status and all knowledge of their mission. SAD officers are a majority of the recipients of the coveted Distinguished Intelligence Cross and the Intelligence Star. These are the two highest medals for valor in the CIA. Not surprisingly, SAD officers also make up the majority of those memorialized on the Wall of Honor at CIA headquarters.
The National Clandestine Service's primary action arm is SAD, which conducts direct action such as raids, ambush, sabotage, unconventional warfare (e.g. training and leading guerrillas), and deniable psychological operations, the latter also known as black propaganda or "Covert Influence". Special reconnaissance is another area that can be under either military or intelligence, but is usually carried out by SAD officers in denied areas.
The unit's existence became better understood in the autumn of 2001, when U.S. special operations forces arrived in Afghanistan to hunt down Al Qaeda leaders and aid the Northern Alliance against the ruling Taliban. SAD units also defeated Al Qaeda in Northern Iraq prior to the invasion and trained, equipped, organized and led the Kurdish forces to defeat Saddam's Army in the North.
On occasion, there is a conflict between United States Special Operations Command USSOCOM units and SAD on the primary mission force for these types of operations. This is usually confined to the civilian/political heads of the respective Department/Agency and is largely a result of those individuals seeking credit. More importantly for America, when SAD is combined with the U.S. Military's Joint Special Operations Command (JSOC) and/or other USSOCCOM units, many consider it the most lethal and effective force in the world.
These units are the the U.S. Navy's SEAL team six (DEVGRU) and the rest of SEAL teams, Army's DELTA Force (CAG), the U.S. Army's Special Forces (Green Berets), U.S. Army Rangers and the U.S. Marine Corps' Marine Special Operations Command MARSOC. SAD operatives are the most unique, because they combine the best special operations and clandestine intelligence capabilities in one individual. These individuals can operate in any environment (Sea, Air or Ground) and with limited to no support. These Paramilitary Operations Officers (as they are called) are from the Special Operations Group (SOG) of SAD, which is considered one of the most elite special operations units in the world.
This means that the US spy agency was engaged in attacks against the Afghan regime-what under other circumstances the American government would call terrorism-from the spring of 2000, more than a year before the suicide hijackings that destroyed the World Trade Center and damaged the Pentagon.
The SAD mission was multifold. Equipped with secure satellite communications equipment, and backed up by unmanned Predator drones and other aircraft, SAD had been tasked to gather intelligence to help U.S. Special Forces in the hunt for Osama bin Laden, as well as making contact with the Northern Alliance to provide the rebels with intelligence and help to coordinate their activities. Their purpose at Qala-i-Jangi, says E, a veteran CIA paramilitary officer, “was to sort out the al-Qaeda foreigners from the Taliban and identify for interrogation ... those who could be used to extract intel on the networks that brought those guys to the war zone.” Obviously, we and alike were also interested in eliciting whatever information they could about Osama bin Laden's whereabouts.
There has been previous press cover-age of paramilitary or covert-action missions. It is usually followed by loud bitching about the endangering of national security from CIA officials. This time was different. Not only were SAD's covert activities in Afghanistan leaked to the press by high-ranking officials intimately knowledgeable and well-informed about SAD5 secret capabilities, the leaks occurred while dozens of officers li1ie Dave and Mike were and still are in harm's way. In harm’s way because when CIA paramilitary officers operate in mufti – civilian clothes – they do not come under the Geneva Convention rules for military prisoners. Unlike Marines or SF troops, captured CIA officers can be summarily executed.
But the fact that CIA personnel might be killed didn’t bother the highly placed sources for an 18 November 2001 Washington Post article by well-connected Washington Establishment reporter Bob Woodward. Entitled “Secret CIA Units Playing a Central Combat Role,” the article described in detail SAD’s mission and its tactical capabilities in Afghanistan. The article also went on to extol the Agency’s role in the war, claiming that “Senior administration officials attribute a significant portion of the speed and effectiveness of recent Northern Alliance advances in Afghanistan to the assistance of CIA units.”

Secret CIA Units Playing a Central Combat Role
The CIA is mounting a hidden war in Afghanistan with secret paramilitary units on the ground and Predator surveillance drones in the sky that last week provided key intelligence for concentrated U.S. airstrikes on al Qaeda leaders, according to well-placed sources.
The CIA units, whose existence has not been previously disclosed, are operating in what amounts to a central combat role in America's unconventional war in Afghanistan. On Sept. 27, one of these units was the first U.S. force to enter the country in the current terrorism war, paving the way for U.S. Special Operations forces. The units also have been providing the rebel Northern Alliance movement with intelligence on opposing Taliban and al Qaeda troop concentrations, the sources said.
The units are part of a highly secret CIA capability, benignly named the Special Activities Division, that consists of teams of about half a dozen men who do not wear military uniforms. The division has about 150 fighters, pilots and specialists, and is made up mostly of hardened veterans who have retired from the U.S. military.
The division's arsenal includes helicopters and airplanes and the unmanned aerial Predator drones equipped with high-resolution cameras and Hellfire antitank missiles. Last week, a CIA-run Predator provided intelligence resulting in three days of strikes that killed key al Qaeda leaders. But it was unclear what role CIA information played in the successful attack on Muhammad Atef, the senior operations lieutenant for Osama bin Laden whose death was confirmed yesterday by the Taliban.
Defense Secretary Donald H. Rumsfeld has given almost daily briefings summarizing the course and accomplishments of the U.S. military action in Afghanistan, which began six weeks ago. Absent from those briefings are any details or sense of the CIA's covert role in the battles, a secret war that has until now remained largely under wraps.
The role of the CIA's paramilitary units has been particularly important in Afghanistan, several sources say, because much of the war has turned on intelligence and targeting information. The CIA warriors also bring an experienced knowledge of the territory and Northern Alliance factions.
In addition to its paramilitary units, the CIA's Special Activities Division has inserted into Afghanistan specialized CIA case officers from the agency's Near East Division who know the local languages and had previous covert relationships with the Northern Alliance going back years.
For the last 18 months, the CIA has been working with tribes and warlords in southern Afghanistan, and the division's units have helped create a significant new network in the region of the Taliban's greatest strength.
One source said that the Special Activities Division units have directly or indirectly helped with hundreds of successful military strikes since Oct. 7, when the U.S. military bombing campaign began. The handling of intelligence for airstrikes and the use of the Predator has led to some turf friction and complaints about sharing between the U.S. Air Force and the CIA, but both military and nonmilitary sources say the relationship is working and has provided obvious benefits. The CIA's global response center monitors critical intelligence and video and is in direct communication with the U.S. Central Command, which runs the war from its headquarters in Tampa.
In addition to their war-fighting role, the CIA's covert units designate locations where the massive U.S. humanitarian assistance in Afghanistan is most needed.
All of this covert CIA work is a key part of President Bush's strategy, which one source described as an attempt to "deny the sanctuary of Afghanistan to bin Laden and his al Qaeda network." Bush in September signed an intelligence order, called a finding, ordering the CIA to use all necessary means to destroy bin Laden and al Qaeda. About $1 billion in new funds have been provided the CIA, most of which is for covert action.
The CIA work with the Northern Alliance and tribes in the south is central to that strategy. Operationally, it means that once the CIA locates opposition groups in Afghanistan that have the will and capacity to hunt and kill Taliban and al Qaeda members, those groups will receive covert or overt U.S. support in the form of weapons, ammunition, food and money.
A unit of the Special Activities Division was the first to enter Afghanistan after Bush declared his war on terrorism. The unit established a bridgehead on Sept. 27 for the regular U.S. Special Forces that followed.
These CIA paramilitary units have moved in and out of Afghanistan periodically, and some have established permanent bases. The special units work "hand in glove with the special forces and notably have provided a crucial eyes-on-the-ground capability," a well-placed source said. The Special Activities Division reports to the deputy director for operations, the clandestine arm of the CIA.
Before last year, the division was called the Military Support Program, or MSP, which had existed in the agency for decades. Senior administration officials attribute a significant portion of the speed and effectiveness of recent Northern Alliance advances in Afghanistan to the assistance of the CIA units.
Key has been the precision bombing of Taliban logistics. The sources said coordination on targeting among the CIA special units, traditional satellite and signals intelligence and the U.S. military has improved significantly over the course of the short war, accounting, in part, for the rapid collapse of Taliban forces. "They can't get food and ammunition," a source said. "The Taliban communications have been largely severed."
Because the CIA has focused on bin Laden and al Qaeda for years and gained a strong foothold among the Northern Alliance opposition, several sources said the Afghan phase of the war on terrorism may turn out to be easier than coming phases directed at terrorists in other countries where there is less of a CIA presence.
In some respects, the war on terrorism in Afghanistan appears, at least so far, to provide some ideal circumstances. First, the special units have been going in and out of Afghanistan since 1997, and have gained immense operational experience and important contacts, particularly with the Northern Alliance.
Second, the CIA gained experience during the 1980s covert war in Afghanistan, when the agency provided massive support and funding to the mujaheddin rebels, who eventually drove the Soviet army out. The Near East Division has 10 to 20 case officers with Afghan experience, knowledge of the terrain and languages, and contacts with anti-Taliban groups and tribes. Some of these case officers have been inserted into Afghanistan with the help of the CIA's paramilitary units as liason and support for the Alliance.
Third, in the mid-1980s, the CIA set up a counterterrorism center to coordinate intelligence and operations within the U.S. government. Personnel are assigned from the CIA, the FBI, other U.S. intelligence agencies, even the Federal Aviation Administration. Nearly 300 worked in the center before Sept. 11, and that number has swollen to 900 since the terrorist attacks that killed more than 4,300.
Nine days after the terrorist strikes at the World Trade Center and the Pentagon, Bush outlined the plan for the war on terrorism in a nationally televised speech to a joint session of Congress. He said the war might include "covert operations, secret even in success."

The US threatens war-before September 11
In the immediate aftermath of the terrorist attacks on the World Trade Center and the Pentagon, two reports appeared in the British media indicating that the US government had threatened military action against Afghanistan several months before September 11.
The BBC's George Arney reported September 18 that American officials had told former Pakistani Foreign Secretary Niaz Naik in mid-July of plans for military action against the Taliban regime:
"Mr. Naik said US officials told him of the plan at a UN-sponsored international contact group on Afghanistan which took place in Berlin.
"Mr. Naik told the BBC that at the meeting the US representatives told him that unless Bin Laden was handed over swiftly America would take military action to kill or capture both Bin Laden and the Taliban leader, Mullah Omar.
"The wider objective, according to Mr. Naik, would be to topple the Taliban regime and install a transitional government of moderate Afghans in its place-possibly under the leadership of the former Afghan King Zahir Shah.
"Mr. Naik was told that Washington would launch its operation from bases in Tajikistan, where American advisers were already in place.
"He was told that Uzbekistan would also participate in the operation and that 17,000 Russian troops were on standby. "Mr. Naik was told that if the military action went ahead it would take place before the snows started falling in Afghanistan, by the middle of October at the latest."
Four days later, on September 22, the Guardian newspaper confirmed this account. The warnings to Afghanistan came out of a four-day meeting of senior US, Russian, Iranian and Pakistani officials at a hotel in Berlin in mid-July, the third in a series of back-channel conferences dubbed "brainstorming on Afghanistan."
The participants included Naik, together with three Pakistani generals; former Iranian Ambassador to the United Nations Saeed Rajai Khorassani; Abdullah Abdullah, foreign minister of the Northern Alliance; Nikolai Kozyrev, former Russian special envoy to Afghanistan, and several other Russian officials; and three Americans: Tom Simons, a former US ambassador to Pakistan; Karl Inderfurth, a former assistant secretary of state for south Asian affairs; and Lee Coldren, who headed the office of Pakistan, Afghan and Bangladesh affairs in the State Department until 1997.
The meeting was convened by Francesc Vendrell, then and now the deputy chief UN representative for Afghanistan. While the nominal purpose of the conference was to discuss the possible outline of a political settlement in Afghanistan, the Taliban refused to attend. The Americans discussed the shift in policy toward Afghanistan from Clinton to Bush, and strongly suggested that military action was an option.
While all three American former officials denied making any specific threats, Coldren told the Guardian, "there was some discussion of the fact that the United States was sodisgusted with the Taliban that they might be considering some military action." Naik, however, cited one American declaring that action against bin Laden was imminent: "This time they were very sure. They had all the intelligence and would not miss him this time. It would be aerial action, maybe helicopter gunships, and not only overt, but from very close proximity to Afghanistan."
The Guardian summarized: "The threats of war unless the Taliban surrendered Osama bin Laden were passed to the regime in Afghanistan by the Pakistani government. The Taliban refused to comply but the serious nature of what they were told raises the possibility that Bin Laden, far from launching the attacks on the World Trade Center in New York and the Pentagon out of the blue 10 days ago, was launching a pre-emptive strike in response to what he saw as US threats."

The politics of provocation
This account of the preparations for war against Afghanistan brings us to September 11 itself. The terrorist attack that destroyed the World Trade Center and damaged the Pentagon was an important link in the chain of causality that produced the US attack on Afghanistan. The US government had planned the war well in advance, but the shock of September 11 made it politically feasible, by stupefying public opinion at home and giving Washington essential leverage on reluctant allies abroad.
Both the American public and dozens of foreign governments were stampeded into supporting military action against Afghanistan, in the name of the fight against terrorism. The Bush administration targeted Kabul without presenting any evidence that either binLaden or the Taliban regime was responsible for the World Trade Center atrocity. It seized on September 11 as the occasion for advancing longstanding ambitions to assert American power in Central Asia.
There is no reason to think that September 11 was merely a fortuitous occurrence. Every other detail of the war in Afghanistan was carefully prepared. It is unlikely that the American government left to chance the question of providing a suitable pretext for military action.
In the immediate aftermath of September 11, there were press reports-again, largely overseas-that US intelligence agencies had received specific warnings about large-scale terrorist attacks, including the use of hijacked airplanes. It is quite possible that a decision was made at the highest levels of the American state to allow such an attack to proceed, perhaps without imagining the actual scale of the damage, in order to provide the necessary spark for war in Afghanistan.
How otherwise to explain such well-established facts as the decision of top officials at the FBI to block an investigation into Zaccarias Massaoui, the Franco-Moroccan immigrant who came under suspicion after he allegedly sought training from a US flight school on how to steer a commercial airliner, but not to take off or land?
The Minneapolis field office had Massaoui arrested in early August, and asked FBI headquarters for permission to conduct further inquiries, including a search of the hard drive of his computer. The FBI tops refused, on the grounds that there was insufficient evidence of criminal intent on Massaoui's part-an astonishing decision for an agency not known for its tenderness on the subject of civil liberties.
This is not to say that the American government deliberately planned every detail of the terrorist attacks or anticipated that nearly 5,000 people would be killed. But the least likely explanation of September 11 is the official one: that dozens of Islamic fundamentalists, many with known ties to Osama bin Laden, were able to carry out a wide-ranging conspiracy on three continents, targeting the most prominent symbols of American power, without any US intelligence agency having the slightest idea of what they were doing.

Baca Lengkapnya »»

ANCAMAN PENYALAHGUNAAN DOKUMEN ASLI TAPI PALSU

Pendahuluan
Imigrasi dalam pengertiannya adalah menyangkut segala hal ihwal lalulintas orang, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang masuk atau keluar wilayah Indonesia dan pengawasan yang dilakukan kepada orang-orang tersebut baik yang bersifat administratif maupun pro justitia terhadap keberadaan dan aktivitas orang asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tentu saja, sistem pengawasan dan pelaksanaan prosedur keimigrasian tersebut haruslah mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan yang berimbang, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Atas dasar itulah, setiap WNA yang berada di Indonesia diberikan izin sesuai dengan tujuannya berada di wilayah Indonesia, apakah itu untuk wisata, belajar atau urusan diplomatik.
Dalam konteks globalisasi, keimigrasian memiliki paradigma yang bersifat multidimensinal, yang melingkupi ruang :
a. Politik
Menyangkut hubungan Indonesia dengan dunia internasional, untuk melindungi kepentingan dan kedaulatan NKRI.
b. Kependudukan
Menyangkut pembatasan dan pengawasan izin tinggal baik sementara maupun tetap yang diberikan kepada orang asing dan pengaturan sistem kependudukan yang menyangkut unsur ketahanan nasonal
c. Keamanan
Menyangkut pengawasan terhadap aktivitas orang asing di wilayah NKRI yang berkaitan dengan ancaman-ancaman yang bisa emngganggu stablitas nasional.


d. Ekonomi
Menyangkut pemberian izin tinggal kepada orang asing haruslah memperhatikan kepentingan perekonomian nasional, termasuk di dalamnya perlindungan dan pemberian kesempatan kepada WNI dalam menghadapi persaingan ekonomi global.

Dokumen Perjalanan
Menurut Undang-Undang No 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian, Dokumen perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya meliputi kebangsaan, jatidiri dan berlaku untuk perjalanan negara, dan pemegang dokumen perjalanan tersebut mendapatkan perlindungan dari negara selama berada di Luar Negeri dan memegang dokumen perjalanan tersebut. Dalam istilah orang umum, dokumen perjalanan yang dimaksud adalah paspor.
Indonesia memiliki beberapa jenis paspor yang berbeda jenis, sesuai dengan kegunaan dan tujuannya, yaitu :
a. paspor diplomatik, atau disebut paspor hitam, yang diterbitkan oleh Deplu dan dipergunakan untuk keperluan diplomatik. Biasanya dipergunakan oleh para diplomat. Pemegang paspor ini memiliki kekebalan hukum tertentu.
b. paspor dinas, atau disebut paspor biru, yang diterbitkan oleh Deplu dan diperlukan untuk keperluan Dinas
c. paspor biasa, atau disebut paspor hijau, yang diterbitkan oleh Ditjen Imigrasi, yang dipergunakan oleh orang umum apabila hendak bepergian keluar negeri.
d. paspor haji, atau disebut paspor coklat, yang diterbitkan oleh Depag, yang hanya berlaku selama musim haji pada tahun itu dan hanya berlaku di kota Jeddah dan Mekkah. Terkadang seringkali timbul permasalahan keimigrasian karena pemegang paspor haji ini keluar dari wilayah Jeddah dan Mekkah tanpa berbekal paspor hijau. Dan sebenarnya paspor haji ini masih menjadi polemik dalam keberadaannya, karena dunia internasional tidak engakui adanya paspor haji, yang ada hanyalah sebatas ID Pass atau surat jalan untuk ibadah haji.

Fakta Lapangan
Pada dasarnya, negara telah berusaha melindungi setiap warganegaranya dimanapun mereka berada. Akan tetapi masih saja ditemukan berbagai macam bentuk pelanggaran dan penyalahgunaan dokumen perjalanan baik yang dilakukan oleh WNI maupun WNA. Berikut adalah beberapa kasus pelanggaran keimigrasian :
a. WNI pelaku kejahatan lintas negara, kabur dari wilayah Indonesia dengan menggunakan identitas palsu, sehingga sukar dilacak.
b. WNI yang menjadi TKI di luar negeri yang menjadi korban kekerasan, bahkan hingga ada yang meninggal, susah diproses karena biasanya mereka menggunakan paspor dengan identitas asli tapi palsu, yang diperolehnya melalui calo-calo TKI. Terlebih pada saat mereka berada dil luar negeri, paspor mereka banyak yang dibawa oleh majikannya.
c. WNA yang masuk ke wilayah Indonesia secara ilegal, memperoleh KTP aspal untuk mengurus surat izin tinggal, bahkan beberapa waktu lalu di Batam sempat ditemukan kasus adanya warga negara asing yang memiliki KTP Batam yang diperoleh dari jaring sindikat pemalsu KTP. Sindikat ini memiliki jaringan yang luas, terlebih dengan sistem kepengrusan KTP/KK yang lama dan berbelit sehigga memberikan kesan susah bagi para pemohon KTP dan lebih memilih melalui calo.
d. WNA yang masuk ke Indonesia ada kalanya menyalahgunakan izin tinggal, seperti yang terjadi pada kasus Sidney Jones yang menyalahgunakan izin tinggalnya untuk berkeliling wilayah Indonesia hingga masuk ke Papua, dan kasus wartawan asing yang menyalahgnanakan izin inggal di Aceh.
e. WNA yang tinggal di Indonesia, seringkali ditemukan melebihi batas izin tinggal yang diperbolehkan, dan beberapa di antaranya malah memiliki tempat tinggal dan pekerjaan dengan posisi tertentu di Indonesia, yang sebenarnya juga merupakan salah satu pelanggaran keimigrasian.
f. WNA yang masuk ke Indonesia dengan menggunakan identitas palsu pada paspornya untuk menghindari jejak atau tracking dari kepolisian internasional, yang biasanya dilakukan oleh jaringan narkoba internasional. Biasanya para pelakunya adalah orang Negro Afrika.

Langkah-Langkah Penyelesaian Permasalahan Keimigrasian
Fakta-fakta yang ditemukan di lapangan memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak, khususnya aparat yang berwenang, baik dari pihak imigrasi maupun pihak terkait lainnya, sebagai bagian dari upaya preventif dalam rangka menjaga stabilitas dan ketahanan nasional. Langkah-langkah yang diambil diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat) terhadap permasalahan yang ada untuk merumuskan strategi yang tepat sehingga dapat diambil tindakan manajemen yang efektif dan efisien sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
b. Melakukan pelaporan kepada pimpinan dalam format yang baik agar pimpinan dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan, sehingga dapat dirumuskan kebijakan yang tepat.
c. Mempergunakan dan memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai upaya pengamanan. Salah satunya adalah dengan penyegeraan pemberlakuan sistem SIN (Single Identity Number) untuk mengidentifikasi setiap warga negara baik asing maupun Indonesia, sehingga mempermudah pengawasan dan pelacakan aktivitas yang dilakukan.
d. Peningkatan sistem Ketahanan Nasional termasuk kerjasama dengan kepolisian internasional untuk mengetahui jaringan pelaku kejahatan internasional, untuk mempermudah identifikasi warga negara asing yang masuk ke wilayah Indonesia.
e. Penyadaran kepada masyarakat tentang kerawanan dan bahaya pemalsuan identitas termasuk sanksi yang akan dihadapi oleh para pelaku jika tertangkap oleh aparat yang berwajib, melalui langkah-langkah sosialisasi yang simpatik.
f. Perbaikan sistem dan prosedur pengurusan dokumen-dokumen seperti KTP, KK maupun paspor, sehingga masyarakat yang hendak melakukan proses pengurusan kartu identitas tidak merasa dipersulit.
g. Peningkatan kualitas kinerja perwakilan RI di luar negeri, untuk memberikan perlindungan lebih kepada WNRI yang berada di luar negeri agar merasa lebih terayomi.
h. Perbaikan kinerja aparat yang terkait, baik secara personel individual maupun organisasional untuk menciptakan situasi yang kondusif dan kinerja aparat yang berkualitas yang mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat, dengan meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang biasanya terjadi.



Kesimpulan
Permasalahan keimigrasian merupakan permasalahan yang cukup pelik, karena ada kalanya menyangkut hubungan antara dua negara, yang bisa berekses pada situasi hubungan kedua negara tersebut. Seperti kasus TKI ilegal dari Indonesia, yang sempat memperburuk kondisi hubungan Indonesia-Malaysia, hingga akhirnya kedua negara bersepakat untuk melakukan MoU sebagai upaya menyelesaikan permasalahan tersebut.
Mengamati kasus yang terjadi, perlu kiranya perhatian yang serius dari pemerintah negara Indonesia, khususnya aparat terkait, seperti Imigrasi, untuk lebih bersungguh-sungguh dan berupaya meningkatkan kinerjanya demi terciptanya stabilitas dan keamanan nasional yang tangguh dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Lengkapnya »»

ANALISA KEGAGALAN JERMAN DALAM MENGANTISIPASI OPERATION OVERLORD YANG DILAKUKAN SEKUTU DALAM PD II

Invasi Normandia, yang nama kodenya adalah Operasi Overlord, adalah sebuah operasi pendaratan yang dilakukan oleh pasukan Sekutu saat Perang Dunia II pada tanggal 6 Juni 1944. Hingga kini Invasi Normandia merupakan invasi laut terbesar dalam sejarah, dengan hampir tiga juta tentara menyeberangi Selat Inggris dari Inggris ke Perancis yang diduduki oleh tentara Nazi Jerman. Mayoritas satuan tempur pada serangan ini adalah pasukan Amerika Serikat, Britania Raya, dan Kanada. Pasukan Kemerdekaan Perancis dan pasukan Polandia ikut bertempur setelah fase pendaratan. Selain itu, pasukan dari Belgia, Cekoslowakia, Yunani, Belanda, dan Norwegia juga turut serta. Invasi Normandia dibuka dengan pendaratan parasut dan glider pada dini hari, serangan udara dan artileri laut, dan pendaratan amfibi pagi hari, pada 6 Juni, D-Day. Pertempuran untuk menguasai Normandia berlanjut selama lebih dari dua bulan, dengan kampanye untuk menembus garis pertahanan Jerman dan menyebar dari pantai yang sudah dikuasai Sekutu. Invasi ini berakhir dengan dibebaskannya Paris, dan jatuhnya kantong Falaise pada akhir Agustus 1944.


Dalam sejarah Perang Dunia kedua, peran intelijen merupakan salah satu
faktor penting yang menunjang keberhasilan operasi militer terbesar
sepanjang sejarah -operasi Overlord- operasi pendaratan pasukan sekutu
di Normandia menjebol -Atlantic Wall- pagar pertahanan Jerman di Eropa
Barat. Keberhasilan operasi ini salah satunya ditentukan oleh kegagalan
Jerman dalam menerjemahkan data dan informasi tentang dari mana, dimana,dan kapan serangan akan dimulai.
Kegagalan menerjemahkan data dan informasi itu mengakibatkan Jerman terpaksa memecah pasukannya secara merata sepanjang bibir pantai Eropa
Barat sehingga lapisan pertahanannya menjadin tipis. Disisi lain, pihak
sekutu telah mempunyai data dan informasi yang sangat lengkap dan
memadai perihal kekuatan Jerman serta kondisi medan pendaratan.
Suksesnya operasi pendaratan itu membalikkan keadaan perang di front
Eropa, selanjutnya menjadi awal dari kejatuhan Jerman secara total.

Saat ini semua menerima bahwa D-Day, nama kode Operation Overlord, adalah operasi yang sukses. Namun pada saat itu, terdapat kekhawatiran yang mendalam bahwa pendaratan di Normandia akan gagal dan bahwa Jerman telah menunggu untuk melempar para penyerbu kembali ke laut, seperti yang telah dilakukan Jerman di Dieppe di tahun 1942. Churchill sendiri khawatir pada hari-hari pertama dengan 60.000 korban di Somme. Bahkan pada tanggal 6 Juni 1944 pagi, Eisenhower secara rahasia mulai membuat draft surat yang isinya dengan dimulai “Pendaratan di Normandia telah gagal...” untuk berjaga-jaga jika invasi berbuah bencana. Andai saja intelejen Jerman mampu menginterpretasikan informasi-informasi yang mereka kumpulkan dengan benar, mungkin Eisenhower akan dicatat dalam tinta sejarah sebagai komandan yang kalah dan dipermalukan. Namun, dibutakan oleh operasi penyesatan yang luar biasa di dalam sejarah, intelejen Jerman menjadi bingung, salah arah dan terpedaya akibat kesalahan interpretasi yang luar biasa tentang maksud sesungguhnya pasukan Sekutu.
Terhadap pertanyaan intelejen kunci dari pihak Jerman tentang “Apakah Sekutu akan menyerbu? Jika iya, kapan, dimana dan dengan kekuatan seperti apa?” Para staf intelejen Jerman, berikut para petingginya, memperoleh 3 jawaban yang salah....
Jerman tidak gagal untuk menyadari apakah Sekutu akan menyerbu; malah sebaliknya mereka menanti invasi Sekutu. Pada awal Januari 19944, Komandan Fremde Heere West (Foreign Armies West, or FHW), Kolonel Baron Alexis von Roenne, menerima sinyal penting dari agen rahasia dinas intelejen militer Jerman di Inggris, yang mengatakan bahwa Jenderal Eisenhower diperkirakan akan kembali ke Inggris. Usai kekalahan besar Jerman di Afrika Utara di tahun 1943, perkiraan tersebut hanya memiliki satu makna: Tahun 1944 adalah tahun bagi Front Kedua dan Ike akan memimpin kekuatan invasi di Barat.

Para perwira tinggi Jerman lainnya seperti Von Rundstedt, dan Rommel, Komandan Tentara Grup B, juga paham bahwa invasi Sekutu suatu keniscayaan. Pertanyaan kuncinya adalah dimana Sekutu akan menyerbu ? Pada bagian lain Selat Inggris, pertanyaan Runstedt dan Rommel juga menjadi topik pembicaraan kunci diantara para perencana Operasi Overlord.
Bahkan andai Sekutu tidak dapat menyembunyikan rencana invasi, mereka mempertimbangkan untuk membanjiri sebanyak mungkin informasi membingungkan pada agen-agen intelejen Jerman. Organisasi yang mendapat tugas untuk melakukan tugas yang krusial itu adalah sebuah kelompok unik yang disebut “Allied Deception Staff” yang lebih dikenal dengan nama samaran sebagai The London Controlling Section (LCS). Tugas utama LCS sederhana: memperdaya dan membingungkan Komando Tertinggi Jerman, termasuk Hitler, mengenai rencana pendaratan D-Day pasukan Sekutu.
Agar rencana ini berhasil, LCS mengusulkan serangkaian operasi penyesatan yang luas dan komprehensif untuk memberi umpan staf intelejen Jerman dengan informasi tepat apa yang mereka cari. Lebih dari itu, dengan mempergunakan informasi intelejen riil sebanyak mungkin, Bodyguard akan memberi Kolonel Von Roenne dari FHW gambaran yang cukup akurat mengenai kekuatan pasukan Sekutu.
Namun kecerdikan yang utama terletak pada upaya distorsi yang pintar yang didisain untuk membuat agen intelejen Jerman keliru mengenai waktu dan tempat yang pendaratan yang benar dan pembagian unit-unit tempur Sekutu. Informasi melimpah dan yang saling bertentangan terus dipompa secara langsung ke dalam sistem intejelen Jerman. Sejumlah informasi diantaranya, yang menarik, adalah benar. Bagi Jerman, satu-satunya masalah adalah: yang mana informasi yang benar? Dengan meminjam bahasa intelejen modern, tujuan LCS adalah membanjiri intelejen Jerman dengan ”Noise”.
Apa pun variasi pesan-pesan yang diterima, jika dikumpulkan oleh agen Abwehr yang cerdas akan mengindikasikan bahwa sebuah pasukan besar Inggris sedang berada di Skotlandia, bersiap untuk melakukan kampanye di kawasan pegunungan atau terjal. Penerbangan pesawat mata-mata Sekutu di atas fjord-fjord di Norwegia serta peningkatan aktivitas kapal perusak Inggris di lepas pantai Norwegia, hanya memiliki satu makna. Hitler kemudian merespon dengan memerintahkan tak kurang dari dua belas divisi siaga di Norwegia untuk menghadapi invasi yang tak pernah datang dari pasukan yang sesungguhnya tidak pernah ada.

Kolonel Bevan, sebagai personel kunci LCS yang sangat mahir dalam hal menciptakan informasi intelejen palsu memiliki satu trik pamungkas lainnya. Alangkah bagusnya, jika seorang Jenderal Jerman yang terpercaya dapat “membenarkan” laporan keliru yang melimpah yang telah dipompa ke mesin intelejen Jerman sebagai sebuah laporan intelejen yang akurat. Kebetulan Inggris berhasil menangkap Jenderal von Cramer pada bulan Mei 1943 saat kekuatan Poros hancur di Tunisia. Sebagai tawanan perang di Inggris kesehatan Jenderal von Cramer terus menurun, sehingga di bulan Mei 1944 pihak Palang Merah mengatur kepulangan dia kembali ke Jerman melalui kapal netral Swedia. Staf Sevan telah mengatur agar kepulangan Jenderal von Cramer tidak dalam keadaan “tangan kosong”. Secara sengaja, saat hendak menuju ke kapal, dia melewati konsentrasi pasukan di Sebelah Selatan Inggris hingga “Markas Besar” Jenderal Patton. Pada saat menghadiri jamuan makan malam yang diadakan oleh Patton untuk menghormati dia sebelum berangkat kembali ke Jerman, von Cramer dipertemukan dengan beberapa “Komandan Divisi” yang bersikap baik dan ramah kepada seorang Jenderal musuh, namun, sempat terdengar bergosip tentang “Calais”.

Segala tipu muslihat tersebut berhasil dengan baik. Pada tanggal 24 Mei, hanya tiga belas hari sebelum D-Day, Jenderal von Cramer telah kembali berada di Berlin,melaporkan kepada Kepala Staff Wehrmacht, Jenderal Zeitzler, segala yang dia lihat dan dengar selama di Inggris. Tidak mengejutkan jika kemudian laporan von Cramer tersebut ”nyambung” dengan seluruh informasi intelejen yang telah dikumpulkan oleh Jerman dan menjadikan laporan asesmen intelejen oleh von Roenne kian dipercaya.
Sehingga, pada hari-hari terakhir menjelang pendaratan, operasi penyesatan intelejen yang luar biasa oleh LCS telah menjadi dasar bagi Jerman dalam pengambilan keputusan. Bahkan Hitler sendiri, kendati intuisinya sempat mengarahkan dia ke Normandia pada saat terakhri, telah merubah disposisinya. Dampaknya sungguh luar biasa. Dari 300 Divisi tentara Jerman, hanya 60 yang aktif di Barat: kurang dari 20 persen kekuatan. Dan dari jumlah itu (20 Divisi), hanya 8 (delapan) divisi yang ditempatkan berhadapan dengan Sekutu tepat ditempat pasukan Sekutu akan mendarat !. Sisanya menyebar antara Balkan, Itali, Rusia, dan Selatan Perancis, Denmark, Belanda, Norwegia, dan yang paling penting, Pas de Calais.

Berdasarkan informasi yang berhasil diintersep oleh LCS pada tanggal 1 dan 2 Juni, serta laporan utusan Jepang, Oshima, ke Tokyo yang mengabarkan bahwa Hitler sendiri pada akhirnya memperkirakan pendaratan Sekutu akan jatuh di Pas de Calais, dan menganggap serangan pengalihan dimana pun itu nantinya pasukan Sekutu mendarat selain di Pas de Calais. Kondisi itu menyebabkan von Roennde and seluruh mesin intelejen Jerman melakukan tepat apa yang diinginkan oleh Sekutu. Ringkasan akhir intelejen Jerman pada akhir Mei 1944 sungguh seperti catalog kesalahan intejen Jerman: Jerman yakin bahwa Sekutu akan menyerang dalam cuaca yang baik, di malam hari menjelang gelombang pasang. Mereka juga memperkirakan akan terdapat beberapa pendaratan palsu/ penyesatan untuk menarik pasukan Jerman menjauh dari tempat pendaratan sesungguhnya – Pas de Calais.

Operasi-operasi penyesatan itu sangat berhasil hingga Hitler sendiri memberikan otorisasi perintah kepada seluruh divisi untuk tetap berada di Pas de Calais tepat sebulan setelah pendaratan di Normandia, sebagai kekuatan anti-pendaratan (yang sesungguhnya telah mendarat di Normandia). Bagi Bevan dan timnya hal ini merupakan kemenangan intelejen yang gemilang, sementara bagi von Roenne dan Komando Tinggi Jerman, hal itu merupakan bencana intelejen.

Kesalahannya barangkali karena telah mengabaikan perlunya analisis kritis: apakah ini benar? Apakah (laporan) ini kredibel? Apakah (laporan) ini dikonfirmasi oleh pihak lain?
Dihadapkan pada pertanyaan” Apakah Sekutu akan menyerang? Jika iya, kapan, dimana dan dengan kekuatan seperti apa?” Staff intelejen Jerman memberikan jawaban yang salah sama sekali. Sebuah kesalahan fatal yang berujung pada kehancuran Berlin dan runtuhnya Kekaisaran Ketiga. Sangat jarang kesalahan perkiraan intelejen memiliki konsekuensi menimbulkan bencana dan tragedi yang hebat.


Baca Lengkapnya »»

Agenda Nasional Indonesia 5 tahun mendatang

Terwujudnya Indonesia yang aman dan damai merupakan upaya untuk menciptakan suatu kondisi bebas dari bahaya dan segala bentuk ancaman baik dari luar negeri dan gangguan dari dalam negeri. Rasa aman dan damai itu tercermin dari keadaan tenteram, tidak ada rasa takut dan khawatir, tidak terjadi konflik, tidak ada kerusuhan, serta rukun dalam sistem negara hukum.


Terwujudnya stabilitas politik yang dinamis merupakan prasyarat utama untuk melaksanakan agenda-agenda pembangunan nasional. Peningkatan kapasitas dan kredibilitas pemerintah dan peran partisipatif masyarakat, merupakan pilar utama yang menjadi prioritas yang perlu dibangun dan diperkuat untuk menjamin dan memelihara situasi aman dan damai secara berkelanjutan.

Sehubungan dengan itu, pembangunan kebudayaan diharapkan dapat menyumbangkan peran dalam meredakan ketegangan antarkelompok masyarakat dan memperkokoh NKRI. Pembangunan kebudayaan juga diharapkan dapat mengembangkan nilai budaya baru yang positif dan produktif dalam memperkuat jati diri bangsa dan memantapkan budaya nasional. Ia juga diharap dapat menemukenali akar ketegangan/konflik, solusi dan antisipasinya untuk memperkokoh NKRI.

Di sisi lain, hubungan internasional diwarnai berbagai isu politik, keamanan dan ekonomi global yang diperkirakan masih akan terus berkembang pada tahun-tahun mendatang. Berkenaan dengan usaha mewujudkan Indonesia yang mampu berperan penting dalam dunia internasional, diperlukan kesinambungan dan konsistensi pemantapan peranan politik luar negeri dan kerjasama internasional. Pemantapan peran dan kerjasama ini menekankan pada pemberdayaan posisi Indonesia sebagai negara bangsa, serta penguatan integritas dan kapasitas nasional melalui optimalisasi pemanfaatan diplomasi dan kerjasama internasional dengan memaknai secara positif berbagai peluang menguntungkan bagi kepentingan nasional.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kompleksitas kondisi sosial dan politik, ketidakadilan, kesenjangan kesejahteraan, dan provokasi yang mengeksploitasi perbedaan etnis, agama dan golongan merupakan tantangan dan hambatan yang cukup berat dalam menciptakan kondisi keamanan dan ketertiban. Sebagai konsekuensi letak geografis yang strategis pada persimpangan dua benua dan dua samudra, Indonesia secara langsung dan tidak langsung menjadi lokasi tindak kejahatan lintas negara (transnasional).

Bersamaan dengan itu, keinginan kuat untuk menyelesaikan separatisme secara damai dan menyeluruh terus diupayakan dengan melakukan perundingan damai sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi. Selain itu, terjadinya aksi-aksi terorisme di negara-negara yang relatif kuat dari segi pertahanan dan keamanan membuktikan bahwa pencegahan dan penanggulangan secara konvensional bukanlah jaminan untuk menciptakan rasa aman terhadap terorisme. Semua ini perlu diwaspadai dan ditindak secara tegas melalui upaya peningkatan daya cegah serta daya tangkal terhadap terorisme. Untuk itu, upaya peningkatan terciptanya kondisi keamanan dan ketertiban juga senantiasa dilakukan perkuatan kemampuan pertahanan negara. Pertahanan negara adalah upaya untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dan melindungi segenap bangsa Indonesia.

Saat ini kemampuan pertahanan negara Indonesia relatif tertinggal dari negara tetangga. Pembangunan pertahanan negara sampai dengan saat ini baru menghasilkan postur pertahanan negara dengan kekuatan yang masih terbatas, terutama bila dihadapkan dengan tugas, luas wilayah, jumlah penduduk dan nilai kekayaan nasional yang harus dijamin keamanannya.

Dengan demikian, pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara mesti diselenggarakan secara terpadu dan bertahap sesuai dengan kemampuan negara, serta diarahkan untuk mewujudkan pertahanan yang profesional dan modern, yang mampu menindak dan menanggulangi setiap ancaman. Sejalan dengan pembangunan di segala bidang inilah, maka Intelijen Indonesia turut mereformasi dan menyiapkan agenda diri dalam menyongsong perubahan 5 tahunan ke depan.

1. Bidang Politik
Di bidang politik upaya mewujudkan Indonesia yang aman dan damai terutama berkaitan dengan upaya melanjutkan peningkatan kondisi saling percaya dan harmonisasi antarkelompok masyarakat serta pemantapan politik luar negeri dan kerjasama internasional. Hal ini berdasarkan pertimbangan, pada satu sisi, kondisi aman dan damai secara politik hanya dapat dicapai apabila terjadi peningkatan situasi yang kondusif yang terus menerus di dalam negeri, dalam hal ini berupa penguatan kerapatan (cohesion) dan ketertiban (order) sosial kemasyarakatan, yang pada gilirannya diharapkan menjadi modal dasar bagi penerapan kebijakan-kebijakan pembangunan nasional lainnya.
Pada sisi lain, kondisi aman dan damai secara politik hanya dapat tercapai melalui peningkatan situasi politik internasional yang sejalan dengan kepentingan Indonesia yang sedang dalam proses konsolidasi demokrasi.Secara timbal balik, konsolidasi demokrasi yang berhasil, pada gilirannya diharapkan mampu memberi dukungan bagi kinerja politik luar negeri dan kerjasama internasional Indonesia.
Indonesia masih mempunyai masalah perbatasan wilayah, baik darat maupun laut dengan negara-negara tetangga. Masalah ini perlu diselesaikan melalui suatu diplomasi perbatasan untuk mengatasi berbagai masalah perbatasan dan ancaman terhadap keutuhan wilayah dan kedaulatan. Masalah lintas batas (border crossing) menuntut pelaksanaan kerangka kerja sama yang lebih efektif untuk memfasilitasi kegiatan masyarakat di perbatasan darat, seperti Malaysia, PNG, dan Timor Leste.
Di samping itu, Indonesia juga masih mempunyai masalah perbatasan maritim (batas laut) dengan Singapura dan Filipina. Pelaksanaan border diplomacy diharapkan dapat meningkatkan atau mempercepat akselerasi pembangunan sosial dan ekonomi kawasan perbatasan, sehingga dapat memperkecil kesenjangan pertumbuhan ekonomi dan kondisi sosial dengan negara tetangga yang berbatasan langsung. Sebab, fungsi wilayah perbatasan adalah jendela yang merefleksikan keadaan sosial-ekonomi nasional.
Berikutnya, soal integrasi ASEAN untuk mewujudkan ASEAN 2020 dan Bali Concord II merupakan proses yang bertahap. Namun, penahapan ini dapat menimbulkan kesan bahwa proses integrasi ini berjalan sangat lamban. Salah satu contohnya adalah kerja sama ASEAN dalam menangani masalah kejahatan lintas negara, yang pada praktiknya belum dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh masalah politis dan teknis yang menjadi penghalang kerja sama tersebut.
Selain itu, telah disadari bahwa terjadi ketidaksinkronan antara rencana kerja sama integrasi ASEAN dengan rencana pembangunan nasional negara-negara ASEAN. Sebabnya adalah minimnya keterlibatan badan-badan perencanaan ASEAN dalam penyusunan dan implementasi rencana ASEAN tersebut. Badan perencanaan nasional dianggap mempunyai peranan yang strategis untuk saling memperkuat program-progam pembangunan di ASEAN, dengan program-program pembangunan nasional di negara-negara ASEAN.
Berkenaan dengan pelaksanaan diplomasi publik, Indonesia menyadari bahwa upaya melawan terorisme dalam jangka panjang sangat bergantung pada upaya memberdayakan kaum moderat. Karena itu upaya mengembangkan budaya dialog, toleransi dan upaya untuk saling memahami dan menghormati antar sesama umat beragama menjadi agenda penting dalam kerja sama internasional yang diprakarsai dan didorong Indonesia. Sehubungan dengan itu, kegiatan yang dilakukan adalah dialog antar agama (interfaith dialogue). Indonesia secara tegas menolak pengaitan terorisme dengan agama atau budaya tertentu. Namun disadari bahwa usaha memberantas terorisme dalam jangka panjang, mesti dilakukan dengan mengikis akar-akar terorisme, yang muncul dari radikalisme dan manipulasi terhadap agama.
Keanggotaan dan kiprah diplomasi Indonesia dalam Dewan HAM PBB dihadapkan pada pesimisme bahwa politisasi akan tetap mewarnai kinerja Dewan HAM. Diplomasi HAM Indonesia termasuk keanggotaan Indonesia dalam Dewan HAM PBB akan sangat krusial dalam menyelaraskan secara seimbang dan proporsional antara kepentingan promosi HAM di dalam negeri dengan diplomasi luar. Adapun penyelenggaraan kerjasama ekonomi internasional mengalami pasang surut. Perlu diakui bahwa kerjasama ekonomi internasional belum dapat dimanfaatkan secara optimal bagi pembangunan Indonesia, baik kerjasama dalam lingkup ASEAN, bilateral dan intra-kawasan. Berbagai permasalahan yang muncul seharusnya menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan, bukan sebagai penghambat.
Berkenaan dengan komitmen Indonesia di ASEAN, sebagai tindak lanjut dalam kerangka kerja sama ASEAN, beberapa kegiatan pokok kegiatan akan dilakukan pada tahun mendatang. Kegiatan itu antara lain melalui keterlibatan aktif dan intensif Indonesia dalam penyelenggaraan kerja sama dengan mitra ASEAN (ASEAN-China, ASEAN-Japan, ASEAN-US, ASEAN-EU, ASEAN-IPO, dan ALFOCOM Fact Funding Committee-Kamboja).
Secara umum, dalam kerja sama memberantas kejahatan lintas negara (transnational crime) dan terorisme, Indonesia perlu terus memperjuangkan peningkatan kerja sama di kawasan ASEAN dalam kerja sama bidang mutual legal assistance (MLA) dan perjanjian ekstradisi. Dalam kerja sama MLA, Indonesia berharap agar negara-negara ASEAN lainnya yang belum menandatangani Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters ikut membubuhkan tanda tangannya.

2. Bidang Kebudayaan
Bangsa Indonesia pada dasawarsa terakhir ini mengalami krisis yang lebih disebabkan oleh kebijakan pembangunan ekonomi yang tidak didukung pranata sosial budaya yang memadai. Perubahan yang sangat cepat dan tidak diimbangi kesiapan budaya bangsa, mengakibatkan pemulihan krisis ekonomi berjalan lamban. Krisis ini bahkan berkembang menjadi krisis moral, sosial, politik, dan krisis multidimensional yang berkepanjangan dan memicu timbulnya penguatan orientasi kelompok, etnik, dan agama yang berpotensi menimbulkan konflik sosial dan bahkan disintegrasi bangsa. Keadaan ini menunjukkan adanya kelemahan kemampuan bangsa dalam mengelola keragaman budaya.
Arus globalisasi yang begitu deras telah membentuk satu budaya global yang berdampak pada semakin menipisnya batas negara dan budaya. Globalisasi bukan hanya memunculkan harapan saling kesepahaman antarbudaya, tetapi juga kekhawatiran terhadap perbenturan antarbudaya (clash of civilization). Lemahnya sikap dan daya kritis sebagian besar masyarakat mengakibatkan kurangnya kemampuan masyarakat dalam menyeleksi nilai dan budaya global, sehingga terjadi pengikisan nilai-nilai budaya nasional yang positif.
Di sisi lain, globalisasi yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi berpengaruh pada dinamika sosial dan budaya masyarakat, sehingga nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan, dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan. pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia cenderung makin pudar bersamaan dengan menguatnya nilai-nilai materialisme.
Guna memperkukuh jati diri dan ketahanan budaya nasional sehingga mampu berperan sebagai filter terhadap penetrasi budaya global, maka perlu dilakukan revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai tradisional yang bernilai luhur. Dilakukan pula sosialisasi dan reaktualisasi etika kehidupan.

3. Bidang Pertahanan Keamanan
Berbagai upaya penanggulangan gangguan keamanan, ketertiban, dan tindak kriminalitas yang terkait dengan tindak kejahatan konvensional maupun transnasional telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Meskipun demikian masih ditemukan gangguan keamanan dan hambatan yang dapat mengganggu suasana yang sudah kondusif tersebut. Upaya yang gigih dalam menanggulangi gerakan separatisme dan aksi terorisme di Indonesia telah membuahkan pengalaman yang berharga sekaligus kesiapan seluruh potensi bangsa untuk menghadapinya.
Selanjutnya, upaya peningkatan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara, telah dilakukan melalui pemantapan terhadap satuan-satuan yang belum standar dan penyesuaian organisasi sesuai dengan kebutuhan, sedangkan untuk komponen pendukung yang mencakup spektrum yang lebih luas dititikberatkan pada upaya inventarisasi/pendataan dan penyiapan berbagai perangkat lunak. Peningkatan kemampuan pertahanan dilakukan dengan strategi dan perencanaan pertahanan diarahkan pada pembentukan minimum essential force.
Ancaman disintegrasi bangsa yang muncul sebagai dampak dari rasa ketidakadilan serta merebaknya sentimen primordialisme secara berlebihan telah melunturkan rasa dan kepentingan nasional bangsa Indonesia. Penyelesaikan kasus separatisme Aceh terus diupayakan melalui perundingan dengan pihak GAM. Namun implementasi butir-butir MoU Helsinki menghadapi berbagai kendala, seperti masih adanya sementara kalangan yang menolak Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan sikap mantan GAM yang dinilai belum secara tulus menerima perdamaian.
Sementara itu, meskipun aktivitas penggunaan senjata relatif ditinggalkan, Gerakan Separatis Papua (GSP) terdeteksi terus memperkuat basis dukungan melalui lembaga politik dan adat, seperti Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Adat Papua (DAP). Di samping mengangkat isu Freeport, mereka berupaya menginternasionalisasikan masalah Papua melalui pencarian suaka politik ke beberapa negara asing. Adanya pengakuan dari negara lain seperti dari Vanuatu, meskipun tidak memiliki landasan hukum yang kuat, namun dapat menjadi benih kesulitan di masa mendatang dalam menyelesaikan masalah GSP. Selanjutnya, belum terselesaikannya sengketa proses politik (Pilkada) dan isu pemekaran wilayah, secara keseluruhan lambat laun akan terakumulasi dan menjadi lahan subur bagi berkembangnya ide dan gerakan separatisme di Papua.
Berkenaan dengan tuntasnya penyelesaian kasus separatisme di Aceh, pada tahap awal diperlukan saling pengertian yang tinggi antara pemerintah dan masyarakat, khususnya mantan anggota GAM. Pemerintah senantiasa berupaya tidak melakukan pengingkaran sepihak atas kesepakatan perdamaian yang telah dicapai. Di sisi lain, pemerintah juga akan menjaga rel politik mantan anggota GAM agar tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun mengenai aktivitas separatisme di Papua, langkah persuasif yang mengedepankan langkah perdamaian dan dialog merupakan prioritas utama, sekaligus diupayakan sekecil mungkin terjadinya kontak senjata.
Aksi terorisme merupakan masalah krusial yang selama ini masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan nasional yang sering dikaitkan dengan konspirasi antar berbagai kepentingan untuk memecah belah Indonesia. Aksi terorisme yang terjadi di dalam negeri terkait erat dengan jaringan terorisme internasional. Salah satu indikasinya adalah para pelakunya lintas negara. Pada masa mendatang aksi terorisme masih akan berlanjut, baik dalam skala kecil maupun sekala besar. Beberapa indikasi yang perlu diwaspadai menghadapi terorisme itu antara lain munculnya skeptisme dan apatisme di dalam masyarakat terhadap kondisi sosial yang kini berlangsung.
Tantangan utama ke depan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah meningkatkan kinerja aparat keamanan dan intelijen dalam mengantisipasi, menangani, serta mencegah aksi dari ancaman terorisme. Oleh sebab itu, pemerintah harus meningkatkan kemampuan perangkat keras dan lunak, termasuk kemampuan bertanggung jawab aparat intelijen, partisipasi masyarakat, dan adanya penegakan hukum yang konsisten.
Lebih jauh, pemerintah harus mampu menghapus lahan subur bagi berkembangnya jaringan teroris, antara lain kemiskinan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, diskriminasi, tersumbatnya mobilitas elit daerah, dan tiadanya keadilan mendapatkan kesempatan, dan terpasungnya demokrasi.
Dalam menghadapi teror yang lingkup serta jaringannya bersifat lintas negara, maka diperlukan kerjasama internasional atas dasar saling menghormati kedaulatan dan terwujudnya ketertiban dunia. Kerja sama dengan negara ASEAN dan negara lain dalam penanggulangan terorisme perlu terus dilakukan. Di antaranya dalam bentuk kerja sama antar institusi pemerintah yang terkait, meliputi kerja sama peningkatan kualitas SDM, teknologi, pendanaan, informasi dan komunikasi.

4. Bidang Ekonomi
Krisis Ekonomi Global dalam perspektif intelijen nasional harus diubah menjadi suatu peluang untuk membangun perekonomian bangsa, dan muncul sebagai bangsa yang kuat perekonomiannya. Terlebih, menurut Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Intelligence Council - NIC), bersama dengan 16 badan intelijen lain di negara itu, menganalisa di kalangan negara Muslim yang akan memiliki kekuatan politik dan ekonomi dalam 15 tahun mendatang adalah Iran, Indonesia dan Turki. Hal ini ditandai dengan melemahnya pengaruh Amerika Serikat, kekurangan sumber daya alam dan pertumbuhan penduduk.
Kondisi dalam negeri pun cenderung membaik. 5 tahun ke depan, sector perekonomian yang berbasis kerakyatan harus mendapatkan prioritas karena sector inilah yang terbukti mampu bertahan dalam krisis ekonomi global dan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Dalam konteks kerja sama ekonomi, guna mempercepat integrasi ekonomi ASEAN, negara-negara ASEAN perlu mendorong perusahaan-perusahaan internasional untuk merelokasi usahanya ke wilayah ASEAN. Kemudian perlu didorong kemitraan yang sejajar dan saling menguntungkan antara usaha sektor swasta dan publik. Sedangkan dalam konteks sosial budaya, gagasan Indonesia berupa ASEAN Cultural Heritage List diharapkan dapat mendukung nominasi peninggalan budaya ASEAN untuk masuk dalam World Cultural Heritage List agar mampu memperoleh dana bantuan dari UNESCO untuk pembiayaan pemeliharaan dan promosi budaya.
Kemudian peran Indonesia perlu ditingkatkan dalam kerja sama di kawasan untuk mewujudkan tiga pilar masyarakat ASEAN, yakni ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Social-Culture Community. Tindak lanjut lain yang diperlukan adalah peningkatan penyelenggaraan kerja sama pendidikan, kebudayaan, penerangan, kesehatan, kesejahteraan rakyat, pengentasan kemiskinan, ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, penanggulangan bencana alam, serta pemberdayaan perempuan di dalam konteks kerja sama ASEAN. Kerja sama ini pada masa mendatang diharapkan dapat memberi sumbangan untuk mendorong terwujudnya ASEAN Social-Culture Community. Yang perlu dilakukan juga adalah peningkatan upaya bersama secara terus-menerus melaksanakan VAP, untuk membentuk mekanisme HAM ASEAN melalui pendekatan bertahap, multi-track capacity building, pendidikan dan public awareness.

Baca Lengkapnya »»

Bekerja dengan kehormatan sebagai dasar.

Bekerja adalah suatu anugerah. Jalan kita untuk menunjukkan kepada dunia, siapa diri kita yang sebenarnya. Oleh karena itu di dalam bekerja, yang pertama kali kita lakukan adalah mencintai pekerjaan kita. Dengan mencintai pekerjaan,
secara alami kita akan melebur dan menjiwai pekerjaan kita dengan sesungguh-sungguhnya.
Salah satu yang harus kita lakukan dalam menjiwai pekerjaan kita adalah menjaga kehormatan diri dan pekerjaan kita. Untuk melakukan hal tersebut, diperlukan disiplin pribadi yang tinggi, dimana kita melaksanakan pekerjaan kita semaksimal mungkin, penuh tanggung jawab, etos kerjatinggi dan memegang teguh etika profesi.
Tanpa diawasi oleh atasan atau pimpinan, kita harus tetap bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menjaga kehormatan diri dan profesi. Apa yang menjadi tanggungjawab kita, harus kita kerjakan dan selesaikan tepat waktu dengan sungguh-sungguh. Jika kita mau bersikap professional, niscaya masa depan telah kita genggam.

Baca Lengkapnya »»